Kamis, 16 April 2009

cerpen

Ribetnya Jatuh Cinta

Astaga….jangan bilang kalau aku jatuh cinta lagi!
percikan asmara yang mulai muncul itu harus segera
dibunuh sebelum terlanjur berkembang. Aku nggak mau
kecewa lagi. Cukup lima tahun ini aku menyimpan cinta
yang begitu dalam pada seseorang. Orang yang menjadi
tambatan hati ku itu bernama Fachry. Dialah sosok yang
menginspirasi ku dalam menulis semua puisi-puisi yang
pernah ku muat di majalah-majalah ibukota. Banyak yang
memuji karya ku itu, namun juga banyak yang tidak
menyukai puisi ku. Menurut mereka, puisi ku terlalu
melankolis dan cenderung melebih-lebihkan. Aku seperti
gadis bodoh yang terus mengharapkan cinta dari cowok
yang selama ini aku cintai. Ya sudah lah, apapun
pendapat mereka yang pasti semangatku tidak akan
mundur dalam menciptakan puisi-puisi.
Cinta datang begitu tiba-tiba sehingga aku tidak
sempat mengantisipasi datangnya rasa cinta itu. Aku
tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikan sosok cowok
yang bernama Fachri. Dia memang bukanlah cinta pertama
ku atau pacar pertama ku. Tapi dia adalah orang yang
berhasil menancapkan samurai berlapis cinta di relung
hatiku yang terdalam. Aneh memang, tapi aku tidak bisa
membohongi hati dan batin ku bahwa aku memang
menyayangi si pencuri itu.
Dibilang tampan sih nggak, tapi dibilang jelek mana
boleh. Karena hidung nya tidak bangir, tapi juga tidak
pesek. Kulitnya sawo matang dan senyumannya tulus dari
hati. Aku biasa menuliskan cerita tentang Fachri dalam
sebuah diary. Di dalam diary itu pula aku menyamarkan
namanya dengan sebutan pangeran merpati putih. Nama
samaran itu sengaja aku ciptakan agar bila suatu saat
ada yang membaca diary ku, maka orang itu tidak akan
tahu siapa orang yang ku maksud. Pangeran merpati
putih adalah nama yang sangat berarti bagiku. Aku
mambayangkan seekor merpati putih memasuki kamar ku
dan menyerahkan selembar surat cinta dengan bau
melati. Surat itu adalah lambang dari hati sang
pangeran yang sedang mencari pendampingnya kelak.
Cinta itu tumbuh dan mekar bersama dengan bergulirnya
waktu. Bahkan aku tidak pernah menyadari hal ini
sebelumnya. Dia telah membuka brangkas hati ku dan
mencuri semua harta berharga yang tersimpan di
dalamnya. Bahkan ia tidak menyisakan sedikitpun cinta
untuk orang lain. Cinta ku padanya seolah-olah
memaksaku untuk terus mencintainya, sehingga ruang
dihatiku penuh terisi oleh bayangannya. Tidak
seorangpun mampu menembus pintu hatiku yang terbuat
dari baja kecuali dia.
Lima tahun terakhir ini, aku baru mengenal apa arti
cinta dan pengorbanan. Setiap denyut nadiku terus
memanggil-manggil nama Fachri. Dadaku berdetak tidak
karuan saat dia berada di dekat ku. Aku bak pelabuhan
yang kesepian. Tidak sebuah kapal pun yang ku izinkan
untuk berlabuh, kecuali kapal si Pencuri hati itu.
Namun, lima tahun berlalu begitu saja. Tidak ada
perubahan terhadap perasaan Fachri kepada ku. Dia
tetap tidak mencintai ku, meski seharusnya waktu telah
melumerkan cintanya untuk berpaling ke arah ku.
Berkali-kali dia terluka oleh cinta. Tapi dia masih
belum lelah untuk terus berlayar mengarungi samudera
cinta. Cinta pertamanya dengan seorang gadis berambut
keriting sepunggung, yang bernama adek kandas begitu
saja. Bagi Adek, Fachri adalah sosok yang dingin dan
menjemukan. Karena itulah hubungan mereka hanya
bertahan satu bulan saja. Untuk kedua kalinya aku
mendengar bahwa dia telah menambatkan hati pada Rani,
teman sekelasnya. Dua kali mencintai gadis, tapi dua
kali pula dia terpuruk karena kecewa. Aku merasakan
apa yang ia rasakan. Melihatnya terluka karena cinta,
kalbu ku ikut berontak.
Setiap istirahat, dia menggunakan waktu untuk membaca
buku di perpustakaan kampus. Aku sering
memperhatikannya dari balik rak buku perpustakaan.
Bila telah mendapatkan buku yang hendak ia baca, maka
tanpa mengulur waktu lagi ia langsung "melahap" buku
itu. Pulang kuliah ia segera mengemasi buku dan
memasukkannya ke dalam tas kemudian pulang tanpa
mampir ke mana-mana. Tidak ada hal baru dalam
aktivitasnya. Boleh dibilang bahwa Fachri itu cowok
yang flat. Apalagi penampilannya yang cenderung
biasa-biasa saja. Tapi, entah kenapa hatiku tidak
mempersoalkan kekurangan nya itu. Mungkin itulah
artinya cinta.
Lima tahun aku mengenalnya, aku semakin mengerti
dengan watak dan tingkah anehnya. Bahkan rasa yang
tidak pernah terucap itu semakin lama semakin besar.
Hampir setiap malam aku membayangkan untuk bertemu
dengannya keesokan hari.
Teman-teman ku sering mengejek tingkah laku ku yang
seperti cacing kepanasan kalau bertemu Fachri. Mereka
tidak mengerti kenapa aku bisa tahan dengan cinta yang
terbilang bodoh ini.
Empat bulan lalu aku mendengar kabar bahwa dia jadian
dengan teman sekelasnya di kampus. Sempat kecewa dan
sedih juga. Tapi itu tidak bertahan lama, karena aku
yakin bahwa mencintai seseorang dengan tulus tidak
membutuhkan balasan yang sama. Toh cinta tak harus
memiliki. Hal ini memang sempat merontokkan semangat
juang ku, tapi ini adalah pilihan nya dan aku tidak
boleh merusak kebahagiaan orang yang ku sayang. Lebih
baik begini, biar aku yang menderita asal dia bisa
bahagia dengan pilihan hatinya. Jika hati itu terdiri
dari dua belahan, maka biarlah hanya satu belahan yang
luka asalkan belahan yang lain tetap utuh. Duka itu
biarlah menjadi tanggungan ku sendiri, tidak akan ku
harap dia ikut menanggung duka ku.
Gadis itu berhasil mencuri hati Fachri hanya dalam
hitungan bulan. Padahal keberadaan ku selama lima
tahun ini tidak mampu menaklukkan hatinya. Aku
menyerah untuk terus berjuang meraih cintanya. Bukan
karena aku pengecut tapi karena aku ingin menjaga
perasaan nya. Aku tidak ingin dia menderita untuk yang
ketiga kalinya. Dia terlalu naif dalam memandang
cinta.
Aku tak menyalahkan siapa-siapa. Dalam percintaan
tidak mengenal hitam dan putih. Tidak ada yang salah
dan yang benar. Semua kabur dan tidak berbentuk. Cinta
tidak akan bisa diraih dengan paksaan atau belas
kasih. Biarlah dia hidup dalam dunianya dan aku hidup
dalam duniaku sendiri. Meski dia berdampingan dengan
gadis itu, setidaknya aku masih bisa memperhatikannya
dari sudut gelap itu.
Semua orang pasti meledek perasaan ku. Tidak ada yang
mau mengerti bahwa cinta ku itu tulus. Teman-teman
beranggapan bahwa aku adalah perempuan bodoh yang
menghabiskan waktu untuk memikirkan seseorang yang
tidak sedikit pun memikirkan ku.
" tak hanya satu ikan di laut, Anca" ujar salah
seorang teman ku
" tapi ikan dilaut itu semuanya Pantau, gimana dong?"
jawab ku sambil bercanda. Dan teman-teman ku tertawa
terbahak-bahak mendengar celoteh ku itu.
Ada juga hikmah yang dapat ku raih dari kenyataan
itu. Setidaknya aku bisa menulis puisi yang lebih
menyentuh dan aku akan mengirimnya pada majalah di
ibukota. Aku yakin masih akan ada tawa dibalik
tangisan. Tergantung manusia untuk menyikapi
perasaannya. Jika ia terlalu larut terbuai perasaan
patah hati, maka dia akan selamanya terjerumus dalam
penyakit hati itu. Tapi jika ia berusaha bangkit maka
ia akan bisa memandang dunia ini dengan senyuman.
Aku tidak peduli apakah akan selamanya mencintai
Fachri yang selalu memunggungi ku, atau suatu saat aku
akan bertemu dengan seorang yang bisa mengusir bayang
Fachri. Selama matahari masih menyinari bumi, selama
bulan masih ditemani bintang-bintang, selama hujan
masih turun dari atas ke bawah dan selama nyawa masih
dikandung badan, selama itu aku akan terus berusaha
untuk bangkit dari keterpurukan itu. Meskipun harus
tertatih-tatih dan harus jatuh bangun. Toh dunia tidak
sebesar daun kelor.
Kini tiba-tiba saja rasa cinta itu datang lagi tapi
bukan untuk Fachri. Teman satu angkatan ku mampu
mencuri perhatian ku melalui gerak-geriknya yang
menyenangkan. Jika orang bilang rasa cinta itu
alamiah, tapi bagi ku rasa cinta itu nggak boleh
tumbuh lagi. aku nggak mau kecewa untuk yang kedua
kalinya. Perasaan yang menyiksa selama lima tahun ini
sudah cukup untuk merobek-robek jiwa ku yang gersang.
Semakin lama aku mengacuhkan perasaan ini, aku semakin
terluka.
Aku tidak mengelak kalau suatu saat aku pasti akan
jatuh cinta lagi. tapi jangan sekarang! Karena luka
itu belum sembuh. Aku masih takut terluka kedua
kalinya. Lagi pula bayangan Fachri masih terlukis
jelas di benakku.
Tuhan.......hapus rasa cinta ku pada Ayez. Agar aku
tidak kembali terpuruk kecewa karena terlalu berharap
pada sesuatu yang tak pasti. Lagi pula logika ku tidak
menerima kalau aku jatuh hati pada Ayez si perokok
berat. Sejak kecil, aku sudah berulang kali
bolak-balik rumah sakit karena saluran pernafasan ku
terganggu. jika aku jatuh cinta pada Ayez itu artinya
aku harus rela menghirup asap rokok dan asap knalpot
motornya hampir setiap hari.
" ih...." umpat ku kesal
" ada apa, Anca? Saya perhatikan dari tadi kamu
melamun terus, ada masalah?" tanya Pak Zo, dosen ku
" nggak ada apa-apa, Pak" jawab ku
" paling kumat lagi penyakitnya" ledek Bryan
" apa-apan sih loe? Urus tuh bibir" maki ku

Sialan....gara-gara mikirin Ayez aku terpaksa
menerima omelan Pak Zo di kelas. Nggak cuma itu aja,
aku di suruh membuat makalah mengenai kenakalan remaja
yang banyak nya 11 halaman. Itu salah satu alasan
mengapa aku takut terkena virus cinta.
" nggak mau.....nggak mau...." teriak ku histeris
" ada apa, Ca?" tanya Hany yang sejak tadi ternyata
memperhatikan gerak-gerik ku
" ah nggak apa-apa. Aku ke toilet dulu, ya" pamit ku
pada Hanny
" makanan mu nggak dihabiskan?" Hanny mengingatkan
" buat kamu aja" tolak ku
Aku berjalan ke toilet lebih cepat dari biasanya,
sebentar lagi Ibu Mira akan mengajar dan aku nggak mau
sampai terlambat masuk kelas beliau. Setelah
menyelesaikan keperluan ku di toilet, aku segera
kembali ke kelas. Karena buru-buru aku menabrak
seseorang yang berada di depan ku.
" aduh...sorry gue nggak sengaja" sesal ku
" nggak apa-apa kok" jawab nya
" Ayez....?" aku kaget bukan kepalang
" iya, kenapa memangnya? Muka mu pucat, Ca lagi
sakit?" tanya Ayez
" ih...ih...." aku berlari sangat kencang seperti
habis melihat hantu
Percuma saja aku kembali ke kelas dengan segera.
Meski sudah sekuat tenaga aku berlari dari toilet,
tetap saja aku nggak diizinkan masuk ke kelas. Ibu
Mira memang dosen yang sangat disiplin. Terlambat
beberapa detik saja tidak akan diizinkan masuk ke
kelasnya. Apalagi aku sampai terlambat dua menit,
wajar rasanya kalau aku nggak diizinkan masuk.
Aku duduk di bangku yang berjejeran di depan kelas.
Wajah Ayez terus terbayang di benak ku. Sebelum aku
menyadari sudah jatuh hati padanya, hubungan kami
memang sangat dekat layakya sepasang sahabat. Tapi,
sekarang aku sadar kalau aku mulai menyukai nya dan
aku nggak mau disiksa oleh perasaan itu.
" nggak diizinin masuk ya?" suara Ayez membuyarkan
lamunan ku
" iya" jawab ku sungkan
" akhir-akhir ini kamu kenapa, Ca? Ada masalah? Cerita
sama aku ya" tawar Ayez
" nggak ada apa-apa kok. Cuma lagi sebel aja" jawab ku
berlagak santai
" sebel kenapa sih?" tanya Ayez
" kayaknya loe nggak perlu tahu semua urusan gue deh.
Mau loe apa sih?" omel ku
" loh kok malah mara-marah sih? Aku cuma mau menghibur
kamu aja" Ayez tampak kesal
" menghibur. Loe fikir gue sudi loe hibur?" bentak ku
" kamu kenapa sih? Nggak biasa-biasanya jutek begini"
" jangan deketin gue lagi, gue sebel sama loe" maki ku
" kesel sama aku? Astaga aku sudah melakukan kesalahan
apa sama kamu?" tanya Ayez
" nggak usah dibahas deh" jawab ku ketus
" sebenarnya, kamu kayak gini apa karena gossip
tentang kita?" tanya Ayes ragu-ragu
"idih, gissip apaan?" tanya ku rada-rada jutek
" temen-temen bilang kalau kita pacaran" jawab Ayez
" namanya gossip ya jangan didengerin lah. biarin aja
mereka bilang apa" jawab ku
" tapi, gimana kalau kita bener-bener pacaran?" tanya
Ayez
" loe kan tahu sendiri kalau kita nggak pacaran, jadi
nggak ada yang perlu dipermasalahkan" jawab ku
" tapi gimana kalau gue suka sama loe? apa boleh?"
tanya Ayez lagi
" loe ngomong apaan? gue nggak nyambung sama obrolan
kita" maki ku
" gue beneran sayang sama loe, tapi bukan sebagai
temen. loe mau kan jadi cewek gue?" pinta Ayez
" hmm...loe kan tahu sendiri syarat buat jadi pacar
gue seabrek. apa loe sanggup untuk shalat lima waktu,
nggak main kartu lagi dan nggak kelaur malam, dan
nggak pakai motor lagi, dan yang paling penting adalah
nggak ngerokok" ancam ku
" sanggup. loe dah berkali-kali bilang gitu ke gue.
dan gue sudah pertimbangkan kalau gue sanggup menuhin
semua persyaratan loe" Ayez setuju
" kalau gitu, gue bakal kasih waktu loe buat
ngebuktiin kalau loe nggak bohong"
***
ku fikir mungkin akan lebih mudah melarikan diri dari
Ayez dengan memberikan syarat yang susah. ya nggak
mungkin lah seorang Ayez mau berhenti melakukan
aktivitasnya yang jelek itu.
" pagi......"sa aAtez pada ku
" pagi" balas ku
" aku nggak ngerokok dan nggak pakai motor ke kampus
loh" pamer Ayez
"bagus deh, tapi nanti pulang kuliah nggak bakal
nongkrong sambil main kartu lagi kan?" tanya ku
" nggak, aku janji. tadi juga sudah shalat subuh"
pamer Ayez lagi
***
Ku fikir setelah mengajukan syarat pada Ayez dia akan
mundur teratur dan nggak mencoba nge-deketin aku lagi.
ternyata fikiran ku salah. duh....
hari ini adalah batas akhir perjanjian kami, itu
artinya aku harus terima Ayez. kalau ternyata aku lagi
jomblo sih nggak apa-apa, tapi semalam Fachri nembak
aku dan sungguh itu adalah hari yang paling
membahagiakan. sekarang giliran aku yang pusing gimana
caranya nolak Ayez yang sudah jelas-jelas banyak
berkorban buat aku. apa aku pasang dua aja??
hmm....asik juga kali yee kalau punya dua cowok
sekaligus? he...he...he...
" kenapa sih cemberut mulu?" tanya ku saat melihat
Fachri duduk termenung di depan terasrumah ku
" aku mau kamu jujur sama aku, apa kamu punya cowok
lain selain aku?" tanya Fachri
" ka...kamu ngomong apa sih?" jawab ku gugup
" aku tahu tadi siang kamu sudah jadian sama Ayez kan?
aku nggak nyangka kamu tega sama aku. aku fikir selama
lima tahun ini kamu nunggu aku dengan cinta suci mu.
tapi..." seru FAchri
" maaf...." jawab ku penuh sesal
" aku sempat ragu untuk pacarin kamu, aku takut kamu
nge-duain aku seperti cewek-cewek ku yang lain.
ternyata bener...kalau ada kesempatan cewek mana pun
juga bakal selingkuh." Umpat Fachri
" aku....nggak enak nolak Ayez. dia sudah mematuhi
syarat yang aku buat jadi, aku harap kamu ngerti" ujar
ku membela diri
" jadi bener firasat aku, kamu nggak bener-bener
sayang aku. kita putus" tiba-tiba Ayez muncul dari
belakang pohon pinus di depan rumah ku
" Ayez....." ucap ku lirih
" iya, dan kami berdua nggak mau kamu dua-in. kita
putus!" bentak mereka
" jadi aku jomblo lagi dong???" ucap ku lirih
"dasar nasib...." sambung ku

Marisa Elsera
Mahasiswi Universitas Andalas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar